Langsung ke konten utama

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu, kekasih
Aku mencintaimu
Dengan seluruh keberadaanku
Aku mencintaimu
Dengan kejujuran orang dusun
Karena aku di sini
Di antara rumah-rumah 
Yang saling menukar isi dapurnya
Karena aku dinaungi mereka 
Dari kejahatan musim
Dan serbuan tipudaya kota
Karena aku di sini
Di antara pohon-pohon dan sungai
Dari mana aku belajar lagi
Tumbuh dengan tenang dan perlahan
Mengalir

Aku mencintaimu, kekasih
Demi hidup yang bangkit dari sekaratnya
Demi cahaya matamu yang bagaikan matari
Dan hidupku sendiri seterusnya

20 Sept 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIMA PUISI PENCERAHAN

1. MUHASABAH Apa kamu lelah? Sini datanglah padaku,  pada dadaku, dengarkan detak jantungku  satu-satu. Sudah lama kau pergi dari rumah  nuju paran demi paran seturut hasrat dan pikiran.  Bagaimana itu bisa membikinmu tenteram?  Sini, lekat padaku, dengar detak jantungku  satu-satu. Apa kau bisa dengar detak jantungmu sekarang? Apa ia hidup? Berdetak? Bersuara? Sini, lekatlah padaku, pada dadaku,  dengar ia berkisah tentang jalan darah  yang teramat panjang, berliku, dan bercabang. Nama-nama dan semua peristiwa larut di dalamnya.  Adakah namamu di situ? Di manakah semua kenanganmu? Sini, surutkan sungai sansaimu, tumpahkan hujan pujamu. Dada ini adalah penerimaan Bumi,  adalah keluasan Langit, yang abadi. Dada,  dada, ke mana lagi kau akan dibawanya? 2017-2019. 2. MEDITASI PAGI Pagi begini jalan kaki kecil-kecil depan rumah. Hitung pelan jengkal halaman. Satu hembusan satu langkah satu arah tatapan. Ke depan ada dinding tetangga,...

Pertemuan Penghabisan

JADI kita putuskan; ke gunung. “Malam nanti,” kau menambahi, “tidak, tidak. Pagi. Aku suka sunrise. Matari bundar sempurna dan kuning kemerahan. Seperti apel, ah, semangka.” Jadi kita ke gunung sore ini juga, mampir di rumah kakek, kakekku sendiri. Kita nonton wayang, wayang orang. “Kapan nikah?” tanya kakek. Kau cuma tersipu. Kakek tahu aku selalu mangkir buat ia pinta menggantikannya kelak. “Aku mau ke selatan, ke Jogja,” kataku waktu itu. Itu sepuluh Suro, empat tahun lalu. Kakek cuma sinis tersenyum atau diam merenung? Bapak pun dulu memilih minggat ke kota Magelang, mengawini gadis keturunan Cina pedagang, dan dari merekalah aku lahir. Aku besar di antara kakek dan bapak. Aku tahu antara keduanya masih timbul saling keseganan. “Jam sembilan lebih sekarang. Kita jadi naik?” kau menyentakku. “Ayoh.” Kulihat kakek tengah memberi instruksi pada beberapa anak wayang. Ia melirikku. Aku menyingkir pelan, menyandang ransel. Pendakian ini seperti masa remaja dulu, cuma bedanya kini ada kau...