Langsung ke konten utama

SAJAK-SAJAK RENUNGAN

1.
Hanya ketika suwung, memahami kenyataan terasa lebih mudah.
Mempersiapkan perpisahan dengan segalanya, itu yang sulit.
Namun jalan selalu terbuka bagi hati yang kuat dan bersih.
Perpisahan adalah pintu pertemuan yang selalu lebih baik.

Apakah yang tersisa dari diri yang penuh dengan isi dunia?
Segalanya berubah bentuk begitu masuk ke dalam diri kita.
Sebagian besar tidak untuk dimengerti. Hanya tersisa sebagian 
kecil untuk dimengerti. Begitu kecil sehingga seperti tak berarti 

sama sekali. Bahkan kemudian buyar menjadi kehampaan.
Namun ketika kita memandangnya dengan mata yang lain,
akan terlihat betapa hal itu adalah yang paling mudah

untuk membuka ruang pemahaman dalam diri kita.
Bahwa kekosongan menyimpan potensi keberadaan. 
Kenyataan yang sebenarnya yang belum kita lihat.

2.
Hujan pasti jatuh, dan akan tumbuh merimbun lagi
rumput-rumput yang sempat kerontang dan layu. 
Meski kemarau telah menginjak-injak dengan kejamnya,
akar-akar bisa sabar bertahan dalam lindungan bumi.

Kata-kata yang tak berbunyi tidak benar-benar mati. 
Mereka menunggu waktu yang benar-benar tepat 
untuk memberikan pengertian yang berterima
bagi sebuah peristiwa yang mengandung makna.

O wajah dari kekuatan penerimaan!
Ibarat perempuan yang hendak melahirkan.
Layak untuk mendapatkan kesempatan hidup kedua.

O bunyi bening asali yang ditunggu-tunggu!
Begitu berharganya saat-saat hening itu.
Ia menyaring dan memusnahkan yang tak berguna.

3.
Hal ini terjadi setiap hari: embun yang berpisah 
dengan malam dan dengan pagi sekaligus.
Matahari baginya adalah pedang yang niscaya
mengantarnya pada kematian.

Apakah seluruh embun di dunia ini
yang saban pagi musnah, yang sebentar
keberadaannya, lalu akan berkumpul
di langit dan berubah menjadi hujan?

Seolah tak begitu berarti di keluasan jagat.
Namun ia sempat berkilau lebih dari sekelebat,
dan melengkapi pagi dengan sejuk beningnya.

Kita hidup dengan kehilangan ingatan waktu lahir,
dan membuang jauh-jauh bayang-bayang kematian.
Keduanya nyata adanya seperti peristiwa embun itu.

4.
Akan kubalas pemberianmu dengan lebih baik, 
dengan bintang-bintang masa depan, sebab yang kau beri
sekarang adalah matahari. Kemelaratan ini seperti kegelapan
yang akan menghisap setiap cahaya yang datang padanya.

Akan kukembalikan apa yang telah kau pinjamkan padaku
beserta ucapan terima kasih yang tulus. Bahwa kehilangan
tak pernah terduga datangnya. Namun kemurahan 
hatimu aku percaya datang pada waktu yang tepat.

Akan kuterima setiap pemberianmu yang berterima
di mataku. Terimalah pembalasanku kembali agar
neraca keadilan tetap seimbang seperti semestinya.

Terimalah pengembalian atas pinjamanku 
dengan keridaanmu, meski tanpa bunga-bunganya.
Sebab bunga-bunga yang lain telah mekar di hatimu.

5.
Sebuah rumah tetaplah sebuah rumah
Meski ia ada di tepi jalanan yang sibuk
memperjalankan keinginan-keinginanmu,
ia adalah tujuan kepulanganmu. 

Sebuah rumah menampung darahmu,
mengalirkannya kepada keturunanmu:
dorongan untuk terus merawat hidup 
dan penolakan akan kematian. 

Memiliki rumah seperti memiliki jawaban
yang teguh bagi pencarian makna diri
yang pernah kau lakukan.

Tidak berumah berarti membiarkan dirimu
gelisah dan terasing dalam penjelajahan 
yang tak berkesudahan.

6.
Kembali kepada hidup yang bercahaya
adalah saat kau mampu membuka mata batinmu
dan menyingkap tabir yang menyelubungi
sisi-sisi kegelapanmu.

Kembali kepada hidup yang bercahaya
adalah saat kau mampu menautkan dirimu 
dengan orang-orang di sekitarmu
tanpa mengubahnya menjadi penjara.

Kembali kepada hidup yang bercahaya
adalah kembali menjejak bumi
meski kau telah mampu terbang tinggi.

Kembali kepada hidup yang bercahaya
adalah memulai lagi kerja-kerja 
yang belum selesai belum apa-apa.

2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu, kekasih Aku mencintaimu Dengan seluruh keberadaanku Aku mencintaimu Dengan kejujuran orang dusun Karena aku di sini Di antara rumah-rumah  Yang saling menukar isi dapurnya Karena aku dinaungi mereka  Dari kejahatan musim Dan serbuan tipudaya kota Karena aku di sini Di antara pohon-pohon dan sungai Dari mana aku belajar lagi Tumbuh dengan tenang dan perlahan Mengalir Aku mencintaimu, kekasih Demi hidup yang bangkit dari sekaratnya Demi cahaya matamu yang bagaikan matari Dan hidupku sendiri seterusnya 20 Sept 2022.

LIMA PUISI PENCERAHAN

1. MUHASABAH Apa kamu lelah? Sini datanglah padaku,  pada dadaku, dengarkan detak jantungku  satu-satu. Sudah lama kau pergi dari rumah  nuju paran demi paran seturut hasrat dan pikiran.  Bagaimana itu bisa membikinmu tenteram?  Sini, lekat padaku, dengar detak jantungku  satu-satu. Apa kau bisa dengar detak jantungmu sekarang? Apa ia hidup? Berdetak? Bersuara? Sini, lekatlah padaku, pada dadaku,  dengar ia berkisah tentang jalan darah  yang teramat panjang, berliku, dan bercabang. Nama-nama dan semua peristiwa larut di dalamnya.  Adakah namamu di situ? Di manakah semua kenanganmu? Sini, surutkan sungai sansaimu, tumpahkan hujan pujamu. Dada ini adalah penerimaan Bumi,  adalah keluasan Langit, yang abadi. Dada,  dada, ke mana lagi kau akan dibawanya? 2017-2019. 2. MEDITASI PAGI Pagi begini jalan kaki kecil-kecil depan rumah. Hitung pelan jengkal halaman. Satu hembusan satu langkah satu arah tatapan. Ke depan ada dinding tetangga,...