Langsung ke konten utama

Kecacatan Atas Syarat-Syarat Pilihan Bebas

(Dari Film "The Reader"-2008)

“TAK seorang pun harus minta maaf,” katanya. Ia mengambil buku tebal dari atas meja kecil dekat ranjang, “Cuma ada peperangan dan perdamaian, nak.” Buku tebal itu mungkin salah satunya berisi kesalahan-kesalahan Hanna Schmitz saat menjadi sekrup dari Rejim Nazi yang pernah melakukan genosida terhadap etnis Yahudi.

Tapi apakah rupanya hidup sesederhana perang dan damai dalam ucapan? Sesederhana rangkaian hidupnya sendiri? Hanna Schmitz, perempuan buta huruf yang tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil dan cukup puas sebagai seorang penarik karcis di sebuah perusahan Trem. Kesendirian dan kesederhanaan rutinitas hidup itu ternyata sebagai sebuah solusi buat minta maaf dan berdamai pada diri sendiri atas kekurangan diri dan ‘kesalahan sosialnya’. Tapi untuk sebuah kesalahan sosial yang dianggap besar semacam keterlibatannya dalam kasus genosida itu, manusia telah mempercayakan penyelesaiannya pada seperangkat alat normatif yang disebut hukum. Hukumlah yang mengatur pemberian sanksi terhadap bentuk-bentuk pelanggaran, meski sialnya ia memang sempit dan terbatas; berlaku pada sebuah kondisi tertentu ketika dikendalikan oleh kekuasaan tertentu. Dan Hanna Schmitz memang belum bisa ‘membaca’; ia memilih menjadi sipir justru ketika ditawari promosi oleh perusahaan Siemens di mana dia bekerja sebelumnya. Ia tak tahu (atau tak mau tahu?) bahwa sistem dengan perangkat kekuasaannya yang ia masuki selanjutnya itu tengah memberlangsungkan sebuah kejahatan kemanusiaan.Yang ia tahu adalah ia butuh pekerjaan yang tak membutuhkan kemampuan baca tulis karena saat itu ia memang buta huruf. Sayangnya dalam film ini tak ditampilkan secara detail proses semacam apakah yang membentuk Hanna sebelumnya sehingga ia sampai demikian. Dan menghindar bisa jadi memberikan solusi temporer atas sebuah kebuntuan, meski pada akhirnya memang nantinya menempatkan orang pada suatu keadaan penyelesaian yang benar ‘adil’. 

Apakah sebetulnya Hanna tak menyadari konsekuensi dan atau akibat-akibat dari solusi-solusi temporer yang ia ambil dari menghindarkan diri atas kekurangannya/atas kebutahurufannya? Ia secara sadar lebih memilih bekerja sebagai sipir dari pada menerima tawaran promosi jabatan. Ia juga pernah bilang, “It is disgusting. We should be ashamed,” saat Michael Berg membacakan cerita mengenai ketelanjangan saat mereka mandi bareng. Ia pernah merasa malu pada anak-anak pramuka yang ketawa-tawa membaca menu makanan di sebuah kedai di tengah perjalanan liburan. Dan ia bisa menjadi seorang perempuan yang memiliki otoritas ketika merasa tidak diperhatikan keberadaannya, “Kau tak punya kekuatan untuk membuatku kesal. Kau belum cukup berarti untuk membuatku kesal,” sentaknya saat ia merasa bahwa Michael mengacuhkan dirinya dengan duduk di gerbong trem ke dua. Bahkan ketika akan ditunjukkan padanya arah mana yang hendak ditempuh selanjutnya saat dalam perjalanan liburan, Hanna cuma menjawab, “Tak apa-apa, kid. Aku tak mau tahu.”

Bagi Hanna hidup dalam kesederhanaan menjalani rutinitas adalah cukup. Seperti mendengarkan cerita-cerita dari mulut Michael dan atau paduan suara di sebuah gereja di desa; menikmati sesuatu dari tangan kedua, tidak langsung dari sumbernya. Seperti juga halnya saat dia bekerja pada SS, atau pun saat bekerja pada perusahaan Siemens atau Trem sebagai buruh, sebagai orang ke tiga. Hal semacam itu membentuknya jadi manusia supel, mudah beradaptasi, dan gampang menikmati hidup. Tapi, ia tak tahu, misalnya bahwa sebuah rekreasi di lain hal juga bisa memantik ide buat menciptakan puisi. Ia memang merasa tak berkompeten untuk menjadi pencipta, ia hanya layak untuk jadi penikmat. Dan penikmat buta seperti itu rentan buat terjerumus pada kesialan. Sebuah kesialan besar, karena mungkin sebetulnya pun ia secara sadar telah terlibat dalam rejim besar yang melakukan kejahatan kemanusiaan yang besar; holoucoust.  

Dan Hanna memang terlanjur telat. Ia baru benar-benar belajar membaca saat ia sudah berada dalam penjara, dalam situasi dan posisi yang dijalankan hukum dari kekuasaan yang baru yang paling mungkin untuk memaksanya melakukan hal itu. Akan tetapi, apa ia benar-benar telah paham akan kesalahan diri dan sosialnya di masa lalu yang berkaitan dengan keterlibatannya dalam genosida itu? Dia cuma berkata setelah dirinya resmi hendak dibebaskan dari masa tahanan 20 tahun, “Sebelum pengadilan, aku tidak pernah memikirkan masa lalu. Sama sekali tak pernah. Sekarang, tak penting bagaimana perasaanku, tak penting apa yang kupikirkan. Yang telah meninggal tetap meninggal. Aku telah belajar, nak. Aku telah belajar membaca.”

Pernyataan ini menjadi sebuah paradoks, sebab di satu sisi ia telah dengan begitu tabah dan berani menjalani masa tahanan selama 20 tahun (hampir sepadan dengan masa 20 tahunan ia ‘menikmati’ hidup setelah keterlibatannya dalam genosida, dan dalam kebutahurufannya), meski di sisi lain ia mungkin masih kurang begitu mengerti dengan kesalahan sosial terbesarnya itu bahkan sampai saat di mana ia dibebaskan (“Yang telah meninggal tetap meninggal. Aku telah belajar, nak. Aku telah belajar membaca”). Lalu apa arti membaca yang telah begitu susah payah ia pelajari sendirian dalam selnya yang sempit itu? Hanna seperti dengan telak menghantam kesadaran kita; apa pun yang kita baca mengenai sejarah masyarakat, tak lain cuma mengenai system kekuasaan yang selalu tak becus buat mengurusi hal-hal/kebutuhan-kebutuhan mendasar kehidupan warganya. Bahkan itu pun bisa terjadi pada masyarakat bangsa Arya yang menganggap dirinya sebagai ras pilihan. 

Dan Hanna meski sebagian besar masa hidupnya buta huruf, telah begitu berani menempuh proses hidup dengan segala konsekuensi-konsekuensinya. Ia hidup dihidupkan oleh keinginannya sendiri, ia mati oleh keinginannya sendiri (Hanna akhirnya bunuh diri). Sebuah kebebasan untuk memilih dengan kecacatan atas syarat-syarat kebebasan itu sendiri akhirnya menuntut bayaran mahal, dan menurut kita mungkin; tragis. Tapi apakah masyarakat nantinya benar-benar mau menerimanya kembali ke dalam pelukannya? Sedang Michael, orang yang ia rasa paling dekat pun masih mempertanyakan ‘kesalahan-kesalahannya’ di masa lalu? Apakah itu masih teramat penting?

8 November 2013.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu, kekasih Aku mencintaimu Dengan seluruh keberadaanku Aku mencintaimu Dengan kejujuran orang dusun Karena aku di sini Di antara rumah-rumah  Yang saling menukar isi dapurnya Karena aku dinaungi mereka  Dari kejahatan musim Dan serbuan tipudaya kota Karena aku di sini Di antara pohon-pohon dan sungai Dari mana aku belajar lagi Tumbuh dengan tenang dan perlahan Mengalir Aku mencintaimu, kekasih Demi hidup yang bangkit dari sekaratnya Demi cahaya matamu yang bagaikan matari Dan hidupku sendiri seterusnya 20 Sept 2022.

LIMA PUISI PENCERAHAN

1. MUHASABAH Apa kamu lelah? Sini datanglah padaku,  pada dadaku, dengarkan detak jantungku  satu-satu. Sudah lama kau pergi dari rumah  nuju paran demi paran seturut hasrat dan pikiran.  Bagaimana itu bisa membikinmu tenteram?  Sini, lekat padaku, dengar detak jantungku  satu-satu. Apa kau bisa dengar detak jantungmu sekarang? Apa ia hidup? Berdetak? Bersuara? Sini, lekatlah padaku, pada dadaku,  dengar ia berkisah tentang jalan darah  yang teramat panjang, berliku, dan bercabang. Nama-nama dan semua peristiwa larut di dalamnya.  Adakah namamu di situ? Di manakah semua kenanganmu? Sini, surutkan sungai sansaimu, tumpahkan hujan pujamu. Dada ini adalah penerimaan Bumi,  adalah keluasan Langit, yang abadi. Dada,  dada, ke mana lagi kau akan dibawanya? 2017-2019. 2. MEDITASI PAGI Pagi begini jalan kaki kecil-kecil depan rumah. Hitung pelan jengkal halaman. Satu hembusan satu langkah satu arah tatapan. Ke depan ada dinding tetangga,...

Pertemuan Penghabisan

JADI kita putuskan; ke gunung. “Malam nanti,” kau menambahi, “tidak, tidak. Pagi. Aku suka sunrise. Matari bundar sempurna dan kuning kemerahan. Seperti apel, ah, semangka.” Jadi kita ke gunung sore ini juga, mampir di rumah kakek, kakekku sendiri. Kita nonton wayang, wayang orang. “Kapan nikah?” tanya kakek. Kau cuma tersipu. Kakek tahu aku selalu mangkir buat ia pinta menggantikannya kelak. “Aku mau ke selatan, ke Jogja,” kataku waktu itu. Itu sepuluh Suro, empat tahun lalu. Kakek cuma sinis tersenyum atau diam merenung? Bapak pun dulu memilih minggat ke kota Magelang, mengawini gadis keturunan Cina pedagang, dan dari merekalah aku lahir. Aku besar di antara kakek dan bapak. Aku tahu antara keduanya masih timbul saling keseganan. “Jam sembilan lebih sekarang. Kita jadi naik?” kau menyentakku. “Ayoh.” Kulihat kakek tengah memberi instruksi pada beberapa anak wayang. Ia melirikku. Aku menyingkir pelan, menyandang ransel. Pendakian ini seperti masa remaja dulu, cuma bedanya kini ada kau...